PLUVIOPHILE


# JOGJA (D-DAY)
December 29, 2017 / permalink


Day 1
Pagi jam 5, aku sudah berada di stasiun dengan membawa tas carrier, bantal perjalanan, kamera, dan gitar lele! Kayanya aku yang paling rempong deh.

Aku mencari-cari temanku dan aku melihat Temmy, Asa, Bapaknya Temmy, dan Nopel?! Dan katanya dia hanya mengantarkan Asa saja.

Dan tidak berapa lama, Celin datang, lalu disusul dengan Ilma. Awalnya aku khawatir Ilma telat karena rumahnya memang yang paling jauh, sementara tiket ada di Ilma semua, kalau dia telat, kita semua batal deh.

Selanjutnya, kita tinggal menunggu Jakol dan Piyik. Bisa bisanya, mereka datang pas ketika kita sudah akan menyerahkan tiketnya.

Dan yeay. Kita semua selamat masuk kedalam! Walau Ilma sempat degdegan karena tiketnya luntur kena hujan.

Akhirnya kita masuk ke gerbong 5 dan mencari tempat duduk. Sebelahku kosong nih Man. Hiks.
Beberapa menit sebelum kereta berangkat, ada pegawai kereta yang menghampiri kursi kami dan bertanya,

“Ada yang namanya Selma?”
Aku menjawab. Dan,
“Ini ada titipan dari ibuk”
Ternyata Mama menitipkan promag.
Aku sudah deg-degan loh Ma.
“Oke, makasih Pak”

Keretapun akhirnya berjalan. Ini adalah pertamakalinya Celin naik kereta. She’s so amazed. Wkwkwkwk.

Ditengah perjalanan, aku dan Ilma pesan makanan. Aku nasi goreng dan Ilma ayam goreng.
Dan 3 jam perjalanan tidak terasa serambi ngobrol sana sini, tau-tau kita udah sampe aja nih di stasiun lempuyangan.

WUAWWW, kita sampai di Jogja broh!
But,
Now what?

Tidak ada tujuan, akhirnya kita duduk dulu di bangku stasiun sambil mikir habis ini kita kemana. Karena yang kami kira, hostel check in tuh jam 1 sementara ini baru jam 9. Sampai akhirnya aku nelfon mbak hostel dan ternyata kita boleh check in lebih awal!.
So, Ilma langsung nelfon grab buat nganterin kita ke hostel.

Kita keluar dari stasiun dan menuju ke pertigaan depan stasiun karena kata pak grab dia udah stay disitu.

Sampai di pertigaan, ternyata kita harus pesen 2 grab karena kita bertujuh.

So, Celin menyalakan hapenya untuk menginstall aplikasinya, karena dari kami, tidak ada yang punya lagi selain Ilma. Dan proses penginstallan tidak berjalan dan banyak halang rintang. Sampai mungkin selama 10 menitan, akhirnya Celin sadar kalau ternyata mobile datanya belum di on kan. 
Duh dasar nich.

Setelah berhasil, akhirnya kita memesan 2 grab. Tim cewe dan tim cowo berpisah.
Kita juga belum tahu nih dimana dan seperti apa hostelnya. Sampai kita diturunkan oleh pak grabnya. Dan kemudian Asa menelfon mbak hostel dan yeah, akhirnya ketemu.

Jujur nih, awalnya, kesanku tidak mengenakkan akan hostel tersebut, namun ternyata itu hanya kesan awal saja, karena kesan selanjutnya, hostel tersebut malah lebih mengarah ke guest house yang tamu seperti boleh menganggap hostel tersebut sebagai rumah sendiri. Like, masak sendiri, boleh nyanyi nyanyi pakai gitar, dan sebagainya. Ini nih kamar tim cewe :

Foto ini diambil saat malam.

Room tour dulu gaes.

Setelah check in, kita kumpul di ruang tengah sambil makan pagi, kecuali aku dan Ilma karena udah sarapan di kereta. Kita mbahas destinasi dan transport.

Katanya, tadi saat naik grab, tim cowo dikasih tawaran dan nomor handphone oleh pak supir. Barangkali kita butuh bantuan untuk transport wisata. Namun, tempat tujuan sudah ditentukan, sementara kita khawatir akan cuaca yang sedang tidak menentu di hari hari sekarang. Jadi kita tahan dulu nih tawaran pak sopir grabnya.

Niatnya, kita mau nyewa mobilnya aja, karena dari kitapun ada yang berpotensi menjadi supir (Celin dan Piyik). Namun Celin maunya dia ¼ perjalanan aja, sementara ¾ nya diambil alih oleh Piyik. Tapi sayangnya Piyik ga berani karena kita semua disini juga ngga tau medan. Tapi saat kita tanya tanya ke mbak hostel tentang persewaan mobil, mbak hostel malah menawarkan sewa motor yang kebetulan dilantai bawah hostel adalah persewaan motor. Namun setelah mempertimbangkan lagi, akhirnya kita lebih memilih sewa mobil, karena faktor cuaca dan jarak. Dan untuk sewa mobil, mbak hostel punyanya kontak persewaan mobil+sopir dengan harga yang lumayan. Sedikit lebih mahal daripada persewaan dari pak supir grab, namun bedanya, tujuan dari persewaan mbak hostel adalah kita sendiri yang menentukan. Jadi jika kita ingin ke pantai tapi hujan, kita bisa belok ke hutan. Yeah. Fix. Kita ambil deh.

Setelah nge fix in hal tersebut, kita capek dan memutuskan untuk tidur siang sampai jam 1 an. Setelah itu kita bisa keluar sambil jalan-jalan keliling kota.

Dan woyyy, aku ngga bisa tidur. Aku bisanya gulang-gulung sambil mendengarkan dengkuran Celin yang sedang mimpi indah. Ilma yang tidurnya di ranjang atas juga ga bisa tidur, dia malah vidcall sama Manti (yang ada di sekolah).

Sampai saat jam telah menunjukkan pukul 1, aku membuka gorden kamar,  dan ternyata it’s raining outside.

“GUYS HUJAN !”
Yup, akhirnya yang dapaat dilakukan hanyalah ngobrol sana sini sambil menunggu hujan reda. Dan Alhamdulillah, jam 2 an, hujan reda.

Tim cewe berniat untuk pergi ke tamansari, sambil siap-siap, akhirnya tim cewe memutuskan untuk “Siap siap dulu aja, anak laki-laki ikut boleh, kalau engga juga yaudah kita aja gapapa”
Dan saat ngetok-ngetok ke tim cowo, ternyata mereka masih pada boboo. Namun, melihat kita udah siap, akhirnya mereka memutuskan untuk ikut dan buru-buru siap-siap juga.

YO. Kita memutuskan untuk engga jalan, kita pesen grab aja. Dan seperti biasa, 2 grab.
Tim cewe dapet sugan coy (supir ganteng), pake brio, sampe Celin yang duduk di sebelahnya grogi katanya.

Tim cewe duluan nyampe, mas sugan menurunkan kami didepan gang masuk tamansari, dan kita nunggu tim cowo lama bet yaampun. Dan you know what? Tim cowo malah dianterin sampai dalemmm, udah ditungguin malah ninggalin. Mas sugan gimana sich, kenapa kita diturunin didepan gang?

Akhirnya tim cewe jalan nyamperin tim cowo, dan kitapun bayar tiket dan masuk.
Saat itu, banyak sekali pengunjung, kita sampe ngga bisa menikmati suasana. “Belum pernah kesini? Padahal this is tempat termainstream di Jogja” kalo kata Temmy sih gitu waktu mendengar pernyataanku bahwa aku baru pertamakalinya masuk ke tamansari.
Cekrek!


Dan percayalah, sehabis foto ini, hujan deraspun turun.
Kita cari-cari tempat ini, tapi ngga ketemu Kira-kira dimana ya? Karena kita ngga boleh puter balik.

Akhirnya kita keluar lagi nih :’v, sambil nunggu hujan reda, akhirnya kita nyanyi-nyanyi ajaa. Asikin aja didalam suasana terngga-asik sekalipun.

So, kita akhirnya memutuskan untuk balik ke hostel, karena hujan ngga juga reda.

Kali ini, tim cowo naik duluan. Dan kita tim cewe, pesen grab berulangkali, tapi ditolak terus. Nasib.
Kita udah ada setengah jam nunggu grab, namun tetep aja dicancel. Jadi kaya, mereka udah nerima, terus ngebuat kita nunggu, dan akhirnya di cancel. Itu udah berkali-kali. Sampai akhirnya Ilma sadar kalau dia punya hp 2. WAT?

Jadi aplikasi ada di hp android, sementara kartu yang didaftarkan didalam aplikasi adalah kartu yang sedang dipakai di hp yang satunya. Jadi dari tadi tuh sebenarnya pak grab udah nelfon berkali-kali, namun Ilma ga angkat karena masuk ke hp yang satunya, dan akhirnya di cancel. Gitu..

Huft. Untuk yang terakhir ini, akhirnya ngga di cancel karena Ilma ngangkat hp kecilnya untuk menjelaskan lokasi kita. Maaf ya para pak pak yang sebelumnyaa, udah buat kalian bingung kita ada dimana.

Di mobil, ternyata tim cowo dah sampe duluan dari tadi, so, kita pesen pop mie ke mereka, biar mereka aja yang ke minimarket, ya karena tim cewe masih di jalan dan lebih tepatnya sih karena mager ..

Dan sesampainya di hostel, ternyata mereka masih ada di ambang pintu dan belum beli pop mie. Mereka berempat niatnya mau lari dengan satu jas hujan diatas mereka (kaya barongsai gitu), karena dua payung ada di tim cewe semua. Namun ngga jadi karena kita datang disaat yang tepat dan akhirnya mereka ke minimarket pake payung. 1 payung berdua gitu.

Setelahnya mereka balik, kita akhirnya bikin popmie bareng bareng tuh di dapur. Lalu lanjut makan. Setelah selesai makan, aku, Ilma, dan Temmy niat cover Sayang punya Via Valen, tapi ngga jadi jadi, diulang-ulang sampai mbak-mbak hostel bosen kali ya ndengerinnya.

Dan jam 9, setelah mandi, kita keluar buat makan dan jalan-jalan di daerah maliboro ala ala backpacker gitu. But, hujan. So, kita memutuskan buat makan di kfc sambil nunggu hujan reda.
Aku pesen oriental, mineral, dan zuppa soup. Setelah makan, kita bosen dan berniat untuk keluar mencari angin malam di Malioboro. Namun gerimis masih tetap awet menambah syahdu suasana Jogja. Gerimis-gerimisan, kita jalan tanpa tahu tujuan, sampai akhirnya kita berniat untuk menaiki kuda andong, namun setelah bertanya pada pak kusir, akhirnya kita tidak jadi karena ternyata ongkosnya lumayan mahal hehe.

Jadi, kita memutuskan untuk duduk duduk di bangku yang ada di Malioboro, sampai gerimis akhirnya reda juga.

Kiri belakang sebenarnya ada Temmy guys.

So, kita akhirnya memutuskan untuk jalan jalan ke tugu. Jalan kaki guys! Dari Malioboro! Dengan Piyik sebagai tour guidenyah! Ehm, sorry, maksudku, google maps.

Kita sempat salah arah nih, jadi kita putar balik. Kita jalan jalan sambil nyanyi-nyanyi bareng my guitar lele. Dan you know what ? Sampai di tugu, kita ga ngapa-ngapain. Kita cuma foto 3 biji. Dan yang paling bagus cuma 1.

Kiri belakang ke kanan depan ada Temmy, Jakol, Asa, Piyik, Celin, Selma, dan Ilma. 

Kita dah ngantuk gaes. Sampai akhirnya kita pesen go-ride dan pulang ke hostel.

Sampai di hostel, ruangan sudah gelap. Jam 00.30. Dan difikir-fikir, tata ruang hostel bagus nih buat foto. Mumpung sepi, akhirnya kita foto studio low budget dulu sebelum tidur. Cheese !


Maaf mbak mas hostel, jam 00.00 lebih kita agak berisik.


Day 2
Bangun-bangun, Ilma dan Celin udah lagi siap-siap buat mandi. Dan what?! 6.30 !
Dan aku belum shubuhan !

Maka dari itu, aku langsung loncat dan shubuhan sendiri karena Ilma dan Celin udah sholat dari tadi. Tim cowo apa kabar? Pintu kamarnya masih tertutup rapat nih!

Kamar mandi ada 3. 2 yang lain berada di tengah ruangan dan berjejeran. Sedangkan yang satunya berada di pojok belakang dekat dapur. Berhubung 2 yang lain sudah dipakai, akhirnya aku mandi di kamar mandi paling pojok belakang. Dan menurutku biasa-biasa saja sih, tidak seperti deskripsi menyeramkan Ilma tadi malam wkwkwk.

Sesudah mandi, akhirnya tim cowo bangun juga, mereka langsung bergantian untuk mandi. Dan setelahnya, aku buru-buru makan roti panggang yang sudah disiapkan oleh pegawai hostel, sampai aku lupa akan mentega! Dan yang paling parah, Celin mencampur sereal dengan teh XD. Karena persediaan roti masih banyak, niatnya kita mau mengambilnya untuk cemilan di mobil, namun karena malu dengan pegawainya, akhirnya ngga jadi deh.

Setelah makan, kita buru-buru menyiapkan barang-barang karena kita memutuskan untuk check out pagi. Dan setelah check out, pak supir sudah menunggu di depan hostel. Barang-barang kita masukan kedalam bagasi, tidak muat sih, namun pak sopir memaksakannya. Katanya, kita akan berganti mobil dengan mobil yang lebih besar. Jadi, kita berdesak-desakan untuk sementara.

Sesampainya di sebuah rumah, yang aku tidak tahu itu adalah rumah pak supir atau bukan, yang pasti, kita memang akhirnya berganti dengan mobil coklat yang ukurannya memang lebih besar. Celin berada di depan di samping pak supir yang sedang mengendarai mobil, sementara aku berada di tengah bersama dengan Temmy dan juga Piyik. Jakol, Ilma, dan Asa berada di jok belakang.
Dan are you ready guys?!

MANGUNAN!!


Dan foto dibawah ada di rumah pohon, cukup tinggi gaes. Dan maximal hanya 3 orang. Sebenarnya aku takut, namun penasaran. Jadi akhirnya naik juga dengan ditemani oleh Temmy dan Asa. Kemudian aku bergantian dengan Jakol. Sayangnya Celin, Ilma dan Piyik tidak ikut.

Asa !

Temmy !

Jakol !

Aku !

Kita !

PUNCAK BECICI !



Dibalik foto yang indah, ada teman yang rela berkorban wkwkwkwk

Tim cewe sedang ngeliatin apa sih?

Tim cowo on action.

Kita !
Next?
PINUS PENGGER !
Jadi disini kita foto sendiri sendiri karena kalo bertujuh takutnya nanti ambruk wkwkwkwk

Selma !

Celin !

Ilma !

Piyik !

Asa !

Jakol !

Temmy !

Next?
TEBING BREKSI!

Gue tunggu lo di lapangan.

Bercandaaa, maksudnya ngajak kamu buat main bola gitu

Lihat masa depaaan

Bukan, lagi liatin cecan

Mending liatin kamu ajaa

Kenapa sih pada liat liat? Aku kan jadi malu nich

Jadi intinya kita ke jogja buat jadi pawang burung

Next?
UGM GUYS !

Kampus impian sejuta umat.

Ternyata udah jam 2 guys. Sementara kereta berangkat jam 16.32. Dan pak supir ngga mau mengambil resiko jika kita terlambat. So, kita akhirnya cus ke stasiun dalam keadaan laparrr.
Aku rasa pak supir sedang buru buru entah karena apa. Dan kita buru buru diturunkan secara mendadak di tengah tengah ramainya jalan lempuyangan. Belum buat nurunin kopernya. Kebayang kan gimana kita akhirnya membuat macet kendaraan yang ada dibelakang. Pak supiiiirrrr ckckck.
Dan setelah turun, pak supir membunyikan klaksonnya sebagai tanda perpisahan. Kita mlipir di sebelah trotoar untuk berembug dimana kita akan makan.
Dan wait.

“Kameraku ngga ada heh!”
“Gorilla tripodnya Selma juga! Soalnya kameraku dipasang di gorilla tripodnya Selma”

Ilma seraya membuat panik kita semua. Awalnya, kita curiga sama Ilma, jangan jangan dia bercanda. “Yang bener Il” Dan dari raut wajah Ilma, dia terlihat serius sih.

Itu membuat kita semua tambah panik. Sampai kita sempat curiga terhadap Asa dan Piyik. Karena wajah mereka begitu datar.

“Serius lah he Sa, terakhir kan di kamu kayanya” Sampe Asa Piyik udah suwer suwer geleng geleng. Asa sedikit tegang, karena kami rasa, dia lah yang terakhir menggunakan kamera Ilma. Dan akhirnya Asa mengingat-ngingat “Seingetku sih masih ada di sebelah jok paling belakang”

Ohya ! Sewaktu di Pinus Mangunan, aku sempat meminta nomor handphone Pak Supir, karena barang kali aja kita ngga tahu mobilnya ada dimana, kan kita bisa nelfon pak supir. Dan ternyata hal-hal kecil tersebut ada manfaatnya juga!

Aku buru buru telfon ke pak supir. “Pak maaf kita dari anak anak yang tadi, minta tolong cek in di jok paling belakang ada ...”

Teman teman berbisik didepanku sambil melambaikan tangan sebagai tanda isyarat, agar lawan bicaraku di seberang sana tidak mendengar apa yang mereka sampaikan. “Jangan bilang kalau itu kamera Sel !”

Namun aku sudah terlanjur berkata “...kamera ngga ya ?” Dan semuanya menghela nafas. Gawat! Kalau terjadi hal hal yang memperburuk situasi, bisa bisa aku yang disalahkan nih!

Dan pak supir di seberang sana berkata “Oh bentar ya mba saya cek dulu, kalau ada temui saya di depan stasiun ya, kalau ngga ada nanti saya telfon lagi”

Dan dengan perasaan yang was was, akhirnya terlihat juga Pak Supir yang sedang mencari cari kita di tengah tengah jalan sambil membawa kamera Ilma yang dipasang di gorilla tripodku. Pak Supir berasa vlogger-vlogger gitu deh. Kita memanggil manggil dia sampai akhirnya dia menghampiri kita.
“Terimakasih ya Pak terimakasih” Ilma menerima kamera dan juga gorilla tripodku. Legaaa. Kita akhirnya bisa kembali cari-cari makan. Sampai pilihan terakhir ada di warung soto-bakso depan stasiun lempuyangan. Aku memesan soto dan teh hangat. Kenyanggg.

Kita masuk ke stasiun, kemudian mencetak 6 tiket karena Asa tetap stay di Jogja. Sebentar lagi dia dijemput kakaknya. See you later Asaaaaaa.

Kita berenam masuk dan sholat. Kemudian aku, Ilma, Celin, dan Temmy setelah sholat langsung cus ke gerbong saat sudah diumumkan bahwa kereta logawa sudah tiba. Sementara Jakol dan Piyik sedang boker!. Untungnya, tepat beberapa menit sebelum kereta berangkat, Jakol dan Piyik akhirnya balik ke kereta.

Dan yeaaa, Trip to Jogja is done. See you later Jogjaaaa. Thankyou verymuchhhhh.

Ini adalah salah satu wishlistku di tahun 2017. Dan siapa sangka, hal tersebut terkabulkan juga di penghujung tahun. Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan Sel?

Dan guys,

Yang aku dapatkan dari trip ini adalah sebuah kebersamaan. Sebuah komitmen. Pergerakan. Keihklasan. Kemandirian. Ambisi. Dan masih banyak lagi.

Karena harus di akui. Menurutku, trip ini memang melewati beberapa halangan yang tidak sedikit. Namun karena kebersamaan lah, karena ambisi dan pergerakanlah, yang membuat kenangan ini berhasil kita ukir sebagai suatu memori dalam masa masa SMA.

Tugas kita bukanlah mengutuk dan menunggu hujan reda, tugas kita adalah bagaimana kita menari dibawah hujan dengan hati gembira. Karena kita percaya, bahwa akan datang sebuah pelangi setelah hujan reda. Dan kita percaya, hari yang cerah sedang menunggu kita untuk menjemputnya.

Guys, this is not about the destination.

This is about the journey.

Terimakasih untuk kenangan yang luar biasa ini kepada semua yang sudah terlibat !

Labels: ,


0 comment(s) on current post.




# JOGJA (part persiapan berangkat)
December 26, 2017 / permalink

Setelah akhirnya mendapatkan tiket, kita langsung cus buat cari penginapan. Kita semua saling tanya tanya info. Kalau aku mendapat info dari bude yang memang bertempat tinggal di Jogja. Aku disarankan untuk ke salah satu hostel di ngabean, harganya memang murah, 75000 per ranjang. Sedangkan salah satu teman smp (yang kakaknya berkuliah di Jogja) menyarankan agar kami mencari di daerah sosrowijayan. Namun rasanya jika kita mencari secara mendadak, yang dikhawatirkan adalah kita bisa kehabisan hostel.

Celin juga mendapatkan info dari makelar yang bertempat di belakang Hartono mall, namun kami rasa itu terlalu jauh ke destinasi tujuan wisata kami. Mantipun mendapatkan info dari teman-temannya lewat aplikasi airy. Jakol dan yang lainnya juga mendapatkan info dari google.
Niatnya, kita memang cari guest house, namun tidak ada yang klop. Ada yang terlalu mahal, ada yang terlalu jauh, dan menurut kesan pesan pengunjung, bahkan ada guest house yang kadang lampunya mati sendiri. Wkwkwk, serem kan.

So, kita merelakan pulsa untuk telfon kesana-sini sesuai info dari google. Ada yang satu malamnya 900.000, ada yang benar-benar sudah klop, namun ternyata penuh. Jadi malamnya, kita memutuskan untuk membooking hostel yang berada di wilayah ngabean, karena itu yang paling memungkinkan.
Paginya, setelah masalah penginapan dan tiket done, aku dan Manti secara japri membahas destinasi dan transport yang digunakan. Setelah membandingkan 2 aplikasi, ternyata grab adalah yang termurah.
Dan you know what?!

Siangnya, Ilma nge WA “Selma sel”
“Manti mau batalin tiket, kamu gimana?”
DEG.

Beberapa detik selanjutnya, Manti nge WA, dia ngejelasin semuanya.
Ya, orang tua Manti memang tipenya sedikit ga beda dengan Mama. Beliau mungkin khawatir akan anaknya yang bakal main jauh dengan anggota 4 cewe dan 4 cowo. You know what i mean.
Aku berusaha meyakinkan Manti “Dipikir pikir dulu Man, kita udah sampai sejauh ini”
Tapi Manti tetap keukeuh. “Ibuku bilang, aku lebih baik kehilangan uang sel..”
“..besok aku minta Ilma bawa tiketnya, aku mau batalin”
Ya mau gimana lagi ya? Kalau udah bersangkutpaut sama ridho orang tua, aku ngga berani. “Ya tahan dulu ya Man, nanti kita cari penggantinya biar kamu ngga terlalu rugi”
Dan Manti setuju.

Hari-hari selanjutnyalah, saat-saat untuk mencari pengganti Manti. Mulai dari anak kelas, saudara, 3 sahabat, sampai beberapa anak dari kelas lain yang hasilnya nihil. Ada yang berasalan,
“Aku ngga kenal Sell, ntar aku lalalolo”
“Aku juga udah pesen tiket ke Jogja bareng anak kelasku sendiri”
“Mager”
“ODD, sorry laa”
“Aku persiapan natal”
“Ada saudara, maaf yaa”
“Aku ngga boleh sama orangtuaku”
“Aku juga mau pulkam ke Jogja Sell”
Tetap. Tidak ada. Sampai akhirnya kita nyerah. “Yaudah kalau bertiga aja ngga papa kan yang cewe?”
“Iya nggapapa”
Malamnya aku memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya kembali kepada Mama dan juga Ayah. Dan mereka akhirnya mengerti.

Sudah mengikhlaskan hal tersebut, H-3, Ayahku flu. Untuk mencegah tertularnya aku dari flu, maka aku bersiap untuk; makan banyak, minum banyak, tidur cukup, dan minum vitamin. Namunnnn, malam Sabtu, pukul 23.57, ranjangku bergetar, lampu di atasku bergoyang sangat kencang, dari arah dapur piring piring berbenturan.

“GEMPA!”

Ayahku (yang memang belum tidur) langsung bangkit dan menggendong adikku yang masih tidur. Kita bergegas untuk keluar dari rumah. But wait !
Adikku yang satu lagi masih ada di dalam kamar bersama mbak rewang!. Ayahku berbalik arah dan menggedor-gedor pintu kamar. Belum juga dibuka, pintu kamarnya kutendang sampai sedikit retak. Barulah mbak rewang muncul sambil menggendong adikku.
Kami semua penghuni rumah keluar ke halaman rumah tetangga. Dan saat kucari info, ternyata gempa berpusat di Sukabumi 6,9 SR.
Selanjutnya, terdapat info susulan berkaitan dengan potensi tsunami. Dan... Cilacap, tempat tinggalku, berpotensi tsunami, sama halnya dengan beberapa daerah lain seperti Cianjur, Garut, dan DIY. What? DIY?!

“Sel kita ngga bakalan kenapa kenapa kan ya disana”
“Nggatauuuu”

Kalau sudah berkaitan dengan yang diluar kuasa manusia, kita hanya bisa pasrah dan berdoa.
Besoknya Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, tidak ada susulan atau berita yang mengkhawatirkan terkait dengan bencana semalam. Namun, tampaknya badanku menjadi tidak enak karena semalam tidak bisa tidur sampai jam 3.

Aku sudah berusaha mencegahnya dengan makan banyak, namun tetap saja, sepertinya radangku semakin menjadi.
H-2, paginya Mama membawaku ke klinik dekat rumah. Aku diberi beragam obat untuk mencegah radangku agar tidak menjadi. Bagaimana kalau nanti akhirnya aku tidak ikut ke Jogja? Huwee gamau.
Malamnya aku berobat lagi ke dokter yang sudah tahu riwayat sakitku. Klinik dekat rumah sebenarnya hanya untuk antisipasi jika dokter yang ini tidak buka. Dan dokter memberiku beragam obat, tanpa disertai obat lambung.

Itu yang membuat H-1ku tidak tidur sama sekali.
Aku tidak tidur karena perutku terasa sakit. Mungkin karena terlalu banyak obat tanpa disertai dengan obat lambung kali ya. Semalam suntuk, aku hanya gulangguling kanan kiri, nyemil, nyoba tidur lagi, tapi tetap ngga bisa sampai ngga kerasa, ternyata sudah jam 4 pagi.

Yaudah, kugunain saja untuk sholat. Dan jam 5, akhirnya aku pergi ke stasiun diantar oleh Mama dan Ayah.

(Lanjut ke story berikutnya yaa)

Labels: ,


0 comment(s) on current post.




# JOGJA (part pesen tiket kereta)
December 23, 2017 / permalink
GUYS I’M BACK!
One of my wishlist on 2017 that i posted at 1st January is actually come true! I’am so excited !

BUT! Perjalanan ini disertai oleh halang rintang yang tidak sedikit dan bisa dibilang cukup melelahkan.

Mulai dari yang pertama ketika kita akan menentukan jadwal keberangkatan dan pesertanya yang lamaaa banged.

Jadi, kita semua berembug, dan rencana awalnya ada 11 orang yang akan ikut, 6 cewe 5 cowo, namun dua teman cewe tidak bisa dengan tanggalnya, dan satu teman cowo tidak bisa karena ada kegiatan lain. Alhasil tinggal 8 yang tersisa. 4 cewe, 4 cowo (Aku, Ilma, Manti, Celin, Asa, Piyik, Temmy, dan Jakol). Walau ibuku memberi saran “Lebih banyak cewenya lebih baik”. Yea orangtuaku memang begitu. Namun Ayahku lebih fleksibel daripada Mama wkwkwk.

Karena itulah, aku berusaha untuk terbuka, memberitahu semua-muanya bahwa “Temen-temenku orangnya baik baik ma, pak”.

So, setelah fix dengan tanggal dan jumlah peserta, hari Senin, setelah selesai UAS, semua peserta menyetor uangnya kepadaku, dan kita ber5 + 1 teman lagi (Pia, yang cuma nemenin) berencana untuk membeli tiket. Kita parkir motor di rumah Temmy yang jaraknya dekat dengan stasiun. Selanjutnya kita pergi ke stasiun sambil jalan kaki. Dan sesampainya di stasiun kita ambil nomor antrian. Sembari menunggu antrian, aku dan Ilma pergi ke costumer service untuk bertanya tentang “Masih adakah tempat duduk tanggal 20 21?”, dan mas-masnya bilang masih ada sekitar 40an untuk berangkat dan 20an untuk pulang. Setidaknya, itu membuat kita sedikit lega, karena Desember ini pastilah banyak orang yang berlibur. Lebih cepat lebih baik, bukan?



Selanjutnya, aku dan Ilma kembali ke tempat tunggu dan ternyata kita masih diharuskan untuk menunggu sampai berpuluh-puluh antrian lagi untuk ke loket, padahal kita harus mengikuti les fisika untuk ujian besok pagi. Akhirnya kita memutuskan untuk digagalkan saja. Ulang lagi besok Selasa.
Besoknya, kita ber4 (yang cewe aja) pergi lagi ke stasiun buat ngulang beli tiket. Setelah kita ambil nomor, kita duduk duduk sambil cerita sana sini menunggu antrian. Sampai setelah satu jam, akhirnya nomor kita dipanggil. Kita berbondong-bondong untuk pergi ke loket yang sudah dipersilahkan.

“Nomor antriannya mana ya mba?”
“Ini mba”
“Formulirnya mana?”
“....”
“Mba?”
*bisik bisik* “Formulir apa sih weh?”
“Mba harus mengisi formulir dulu mba di sebelah sana, baru ambil nomor antrian”
“....”
“....”
“Oooh gitu mba, maaf mba kita ngga tau”
“Oke, kalau gitu ambil formulir dulu ya mba... Nomor antrian selanjutnya

Kita mundur. Seluruh pandangan serasa terarah menuju kita berempat. Sementara kita hanya bisa cengengesan. Maklum, dari kita berempat belum ada yang berpengalaman. Dan ilma akhirnya mengambil 11 formulir, aku mengambil nomor antrian lagi. Kita akhirnya harus menunggu berpuluh-puluh antrian lagi.

Kita memutuskan untuk menunggu di salah satu rumah makan, sembari makan dan mengisi formulir. Kita memesan makanan dan sambil menunggu pesanan, kita mengisi formulir yang sudah ilma ambil tadi.
Dan you know what? Ternyata, satu formulir berisi 4 penumpang wkwkwkwk. Jadi cuma 3 formulir aja yang terpakai. Karena 5 orang pulang pergi, dan 3 orang cuma pergi aja.
Dan untungnya, saudaraku memang sedang menjemputku untuk pulang dan sudah menunggu di stasiun. Jadi kutelfon dia untuk memastikan “Sudah nomor urut berapakah di stasiun?” dan katanya di stasiun sudah nomor urut 239, sementara nomor urut kita 241. Tinggal 3 lagi, what?!

So, aku dan ilma langsung cus aja, bawa surat surat dan bawa dompet. Tas dan lain lain kita titipkan ke Celin dan Manti. Padahal saat itu juga pesanan baru aja dateng. Tapi gapapa, kita ngebut ke stasiun. Aku diturunkan didepan gerbang, sementara ilma parkir. Aku sendiri lari ke stasiun, dan loket berbunyi “Nomor urut 242”.

Ngga lagi alay nih, tapi rasanya lemes. Kelebihan satu doang woy.

Ilma nyusul. Setelah mikir-mikir, kita memberanikan diri untuk bilang ke loket 1. “Mas, kita baru dateng dan nomor antrian kelebihan satu, gimana ya?”
“Nanti langsung masuk aja mba kalo ada yang kosong”

Dan setelah menunggu loket yang kosong, kita langsung masuk. Loket 5.
“Mba, tadi kita udah ambil nomor antrian tapi kelebihan satu”
“Nomor antriannya?”
Aku menyerahkan nomor antriannya.
“Oke, mana formulirnya mba”
Aku kemudian menyerahkan formulir yang sudah diisi, namun ...
“Ini Fikri belum ada nomor identitasnya ya mba”
DEG. Piyik emang belum ada nomor identitasnya, tapi katanya bisa diakalin kalo bilang “Mba, anaknya lagi di luar kota”
“Ya coba dihubungin dulu ya mba”
“Kalau ngga ada nomor identitasnya ngga bisa ya mba?”
“Maaf ngga bisa mba, nanti kalau misal sudah jam 4, mbanya ke finnet saja ya karenakioket sudah tutup”

Aku dan ilma akhirnya mundur. Kita duduk di bangku tunggu, sambil ngehubungin Piyik berkalikali, tapi ngga diangkat. Sampai setelah seperempatjam selanjutnya, akhirnya Piyik bilang “wait” sambil mengirimkan KTPnya. Aku cepat-cepat menuliskan nomor identitas Piyik dan kembali ke loket yang kosong. Loket 2.

Aku menjelaskan kembali dari awal sampai akhir kepada mba nya. Dan akhirnya diperbolehkan.
“Nomor antriannya?”
Aku merogoh sakuku. Ngga ada. Merogoh dompetku. Ngga ada.
“Bentar mba”
Ilma juga mencari di saku saku bajunya, namun tidak ada. Kita capek.
“Mba nomor antriannya ngga ada mba, tapi tadi sudah ambil”
“Maaf mba kalau tidak ada nomor antrian ngga bisa”

Kita mundur lagi. Aku dan Ilma lemas seketika.
Aku dan ilma sudah hampir menyerah. “Apa nyoba besok lagi aja Sel?”
Tapi aku kembali mencoba untuk menekan nomor antrian. Namun tidak bisa.
“Kalau sudah lewat dari jam 3 ngga bisa Sel” kata Ilma.

Aku lemas. “Coba lewat finnet yuk”
Kita ke finnet. Mengantri di belakang ibu-ibu yang sedang dibantu oleh petugas untuk membayar pesanan. Setelah seperempat jam, ibu-ibu tersebut bilang “Maaf mba, finnetnya rusak, saya saja dari tadi ngga jadi-jadi”

Astagaa. Aku dan Ilma sudah pasrah.
“Ini kok kaya ngga diridhoi ya il”

Namun Ilma akhirnya bilang “Cari nomor antriannya lagi yuh Sel!”
Akhirnya aku dan Ilma mencari cari ke seantero stasiun. Aku cari dibawah tempat duduk penunggu. Barangkali. Kita udah ngga peduli sama tatapan tatapan orang orang. Nyatanya kita aneh. Nomor antriannya bisa ngga ada gitu aja.
Dan hasilnya, nihil.

Aku dan ilma akhirnya terduduk, sambil bilang ke Celin dan Manti lewat chat, minta tolong untuk dibungkuskan saja pesanannya karena kita udah ngga mood makan.

Dan beberapa menit selanjutnya, Ilma bilang “Sel! Kayanya tadi nomor antriannya dikasih ke mbanya deh, tapi ngga dikembaliin”

What the..... bener juga.
Akhirnya kita buru buru ke loket 5. Dan sampai di loket, lubang loket udah ditutup sama mbaknya pake kalender. Shyt

Namun aku tetap mengetok loket sampai mbaknya menoleh. “Mba, tadi nomor antriannya di mbaknya bukan ya? Soalnya tadi bla bla bla” Aku berusaha untuk menjelaskan semuanya. Mbaknya memasang wajah yang sedikit bersalah, sedikit merasa kasihan kepada wajah kita, sedikit bingung, dan sedikit tidak bisa aku jelaskan dengan kata kata.

“Mba, silahkan bayar di loket 3 aja mba” Dan mbak loket 5 mengkomunikasikan semuanya.
Dan akhirnya kita dipersilahkan untuk membayarnya di loket 3.

Finally.............


Ini pencapaian yang melelahkan. Sungguh.
Setelah mendapatkan tiket, aku dan ilma kembali ke depan stasiun menjemput Celin dan Manti yang membawakan bungkusan makanan. Aku tidak bisa menceritakan semuanya sekaligus saat itu juga. Namun aku bahagia. Kita lega.
Saudaraku menjemputku dan aku pulang.


(Lanjut ke story berikutnya yaa)

Labels: ,


0 comment(s) on current post.




# 8
October 31, 2017 / permalink



Kita seperti angka 8~
Slalu nyambung terus~
Tak pernah terputus~

Hal menyenangkan yang dipertemukan atas suatu ketidaksengajaan.

Adalah kalian.

Yang ada saja ulahnya.
Membuat hati dipenuhi dengan beragam rasa.

Maka,
izinkanlah aku untuk mengabadikan, setidaknya satu persen saja dari sebuah perjalanan.

Harap harap, jika kita sudah berada dalam kesibukan masing masing,
dan jarak kembali menjadi sosok paling menyebalkan di antara sebuah perpisahan,
Kita semua menjadi kembali ingat,
Bahwa ternyata, hati pernah bahagia, tertawa, ditengah suatu masa dimana pekerjaan rumah dan ulangan harian adalah beban yang paling berat.

People will always change, but, 

Memories don't.

Labels: , , ,


0 comment(s) on current post.




# Fair
October 22, 2017 / permalink


Song :
Cage The Elephant - Cigarette Daydreams
Feverkin - Turn To Salt

Poem : Alone - Bipasha Bhattacharyya

Inframe : Crowded, Me, Dina, Thia, Sekar
Directed by : Selma Garuda
Produced by : Selma Garuda
Voice : Selma Garuda
Editor : Selma Garuda
Camera : Selma Garuda

Labels: , , ,


0 comment(s) on current post.




# 4 Hari Yang Melelahkan?
October 13, 2017 / permalink

Yak, video diatas adalah hasil kegabutanku selama aku diopname 4 hari. Maklum ya absurd, namanya saja sedang gabut. Aku akan senang jika kalian berkenan untuk melihatnya XD.



Yap. Selasa lalu, aku memang dirawat di RS Wijayakusuma, salah satu rumah sakit di daerah Purwokerto.

Karena malam selasanya, setelah menjalani rontgen, dokter radiologi mencurigaiku terkena bronkopneumonia karena batuk yang 2 minggu tak kunjung sembuh.

Dan kira-kira jam 2 dini hari, badanku menggigil sampai pagi, entah kenapa. Kemudian Mama search tentang dokter paru yang praktik pada saat itu juga. Dan kami bertiga, beserta Ayah, langsung menuju RS tersebut.

Setelah memasuki ruangan, dokter paru langsung menyuruhku untuk opname 'sementara'. Dan langsung di-iya-kan oleh Mama.

10-10-17, aku mulai dirawat di paviliun ruang Kresna nomor 5.



Aku diberi cairan infus, kemudian suster meyuntikkanku cairan percobaan; apakah aku ada alergi obat atau tidak.

Ayahku pulang karena kedua adikku tidak ada yang jaga dirumah. Dan sekarang, hanya tinggal ada aku dan Mamaku.

Sorenya, infusku habis, lalu darahku naik keatas melalui selang. Aku panik duluan XD. Padahal, aku sama sekali tidak merasakan sakit. Mama menelfon suster dan akhirnya infusku digantikan oleh infus yang baru.



Dan karena aku tidak ada alergi apapun terhadap obat, akhirnya suster menyuntikkanku dengan antibiotik lewat suntikkan infus.

Sakit. Sungguh.

"Agak pegel ya, karena antibiotiknya bentuknya seperti serbuk kaca" itu penjelasan dari suster.

Hari Rabu, aku memanggil ojek online untuk mengantarkan surat izin sakit dari dokter kepada sekolah. Beberapa menit kemudian, mas-mas ojek online menelfon Mama. Katanya, dia menunggu di parkiran saja. Namun Mamaku menolak. "Masuk aja mas".
Akhirnya mas-mas ojek masuk dengan helm tertutup rapat sampai-sampai Mama tidak bisa melihat wajahnya.

"Bu, maaf ya bu, saya takut sama ojek pangkalan dan taxi diluar, karena ada konflik"

Dan Mama akhirnya 'ngeh' akan hal itu. Turut prihatin ya mas ojek.



Ehehe, sejujurnya, aku berniat untuk tidak memberitahu siapapun tentang hal ini :'v. (Aku hanya memberitahunya kepada saudara-saudaraku dan satu sahabatku di kampung halaman). Namun, aplikasi ojek online menuntutku untuk memberikan nomor handphone pihak yang akan menerima surat. Maka dari itu, aku meminta tolong salah satu temanku agar meminjamkan nomor handphonenya untuk melengkapinya.

Sorenya, temanku tersebut datang bersama 4 orang teman lainnya untuk menjengukku sambil membawakanku 2 kotak bolu. Makasih yaa ❤.

Dan malamnya, adik-adikku dan beberapa saudara datang untuk menjenguk. Adik-adikku so excited dan rela menahan kantuk demi melihatku di nebulizer XD.

Esoknya hari kamis, Badanku sudah mendingan. Infusku sudah habis 4. Yang salah satunya adalah cairan penambah nafsu makan berwarna kuning XD.

Dan di hari itu, ayahku datang, banyak saudara dan teman-teman Ayahku yang menjengukku silih berganti sampai malam juga. Terimakasih semuanya. Bahkan ada yang membawakanku air zam zam XD makasih tante ❤.

Gaes, maafkan aku, aku tahu ini menyebalkan :'v. Tapi aku sedikit terhura akan sikap kalian tentang notif wa ku yang tiba tiba jebol malam itu. Regudugan banyak teman-teman yang bertanya apakah aku di opname atau tidak :'v maafin aku gaes, aku ngga bilang bilang :'v.

Takutnya kalian repot-repot. Padahal kalian sendiri saja harus sekolah sampai jam 5 karena intensifikasi bukan? Kalian kirim doa saja Selma juga udah makasih banget kok. Lagian, dokter juga bilang kalau besok Jumat, Selma udah boleh pulang. "Terserah awakmu wae, nek wis mendingan ya njur bali". Gitu kata dokternya sih...,

Besoknya, jam 9, dokter visit dan aku diperbolehkan untuk pulang. Tidak lama kemudian, ayahku beserta 2 saudaraku menengokku, aku harus menunggu mereka untuk Jumat'an terlebih dahulu, kemudian aku baru bisa pulang dan bisa mengetik catatan singkatku selama 4 hari ini.

Aku tahu, ini adalah pengalaman yang buruk.

Namun yang pasti, aku menjadi tahu pula, bahwa diluar sana, banyak sekali orang baik yang bahkan baru saja aku kenal berapa detik yang lalu. Apalagi yang sudah lama kenalnya, bukan?

Makasih untuk semuanya. Untuk para sahabat di sekolah. Selma bahagia bisa diberi kesempatan untuk bertemu kalian di dunia. Semoga terus berlanjut sampai akhirat, ya teman teman :)

Dan...

Untuk Ayah, yang rela menyisihkan waktu sibuknya untuk sementara. Dan juga untuk Mama, yang selama 4 hari full menemaniku berada di ruang 5.
Allahummaghfirli wali wali dayya warkhamhuma kama robbayani soghiro.

Cilacap, 13-10-17

Labels: ,


4 comment(s) on current post.




# Menjadi Teman
August 29, 2017 / permalink


Teruntuk Kamu yang baik,
Maafkan aku,
Karena aku tidak mudah percaya dengan apa yang dinamakan kesan pertama.
Karena aku telah membuat kamu yang baik ini menjadi kecewa.
Karena aku tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh mereka-mereka.
Karena jujur saja, pada mulanya, namamu dalam diriku masih terasa sangatlah asing.
Walau selama satu tahun, ternyata aktivitas harian kita hanya berjarak kurang lebih 10 meter. Dan selama itulah aku tidak menyadari kehadiranmu. Begitupun kamu.
Bukankah ini terdengar sangat menggelikan?

Teruntuk Kamu yang baik,
Dan takdirpun mempertemukan kita berdua didalam suatu ruangan yang baru. Yang mengharuskan kita berdua untuk bertemu setiap harinya.
Aku lemah dalam hal beradaptasi.
Namun kemudian,
kamu menyapaku.
Jujur saja, aku menganggapmu sebagai sebuah jawaban atas segala doaku.
Intinya, aku tidak lagi kesepian, mungkin karenamu.

Teruntuk Kamu yang baik,
Lambat laun, kita berdua berubah menjadi teman.
Dan Kamu yang baik merangkap sebagai sosok penyemangat, sekaligus rivalku dalam belajar.
Kamu yang membuatku tidak takut untuk duduk di barisan paling depan, percayalah.

Teruntuk Kamu yang baik,
Sekali lagi,
Maafkan aku,
Karena aku pernah menaruh sedikit harapan kepadamu.
Sebuah harapan yang jika dibiarkan, akan berbuah kekecewaan.
Karena sebagai figuran, tak seharusnya aku berharap pada sang pemeran utama.
Yang aku tahu, aku hanya perlu tuk bersabar sedikit.
Setidaknya dalam adegan ini.
Dalam adegan lain, aku pemeran utamanya.
Barangkali.

Teruntuk Kamu yang baik,
Terimakasih telah menyempatkan dirimu untuk menyapaku.
Dan melepaskanmu mungkin adalah cara terbaik.
Karena semakin lama, aku menjadi susah payah tuk menahan malu pada diriku sendiri saat kamu menyapaku.
Karena semakin lama, aku tak bisa menahan pandanganku tuk tidak menunduk saat kamu sedang menatapku.
Itu semua muncul secara tiba-tiba. Aku sendiripun tidak faham akannya.
Maafkan aku.
Yang aku tahu, kita sama sama sudah nyaman dengan hanya menjadi teman bukan?

Di kamar kos,
Banyumas, 29 Agustus 2017.

Labels: ,


0 comment(s) on current post.




# Facts About Opus
July 12, 2017 / permalink

read his article in here.

1. Nama Opus adalah usulan dari Mama Sang Owner.

2. Opus termasuk jenis Persia Medium.
3. Opus sering dikasih makan makanan anjing.
4. Opus sering dikira cewe.
5. Mata Opus kuning cerah.
6. Ekor Opus patah.
7. Mungkin itu yang membuat harga Opus jadi murah.
8. Opus pernah kabur ke genteng karena ngejar kucing liar cewe. *Untung ketemu waktu dipanggil 'Pus pus'.
9. Opus selalu mendekat ketika dipanggil 'Pus', makadari itu, ia diberi nama Opus.
10. Sang Owner tidak tahu berapa umur Opus.
11. Opus takut gitar.
12. Opus takut suara hairdyer.
13. Opus tidak takut anjing.
14. Opus sering tidak terlihat karena warnanya sama dengan lantai.
15. Opus mau diberi nama Jono, tapi ngga jadi.
16. Opus mau diberi nama Sunu, tapi ngga jadi.
17. Opus mau diberi nama Puspita, tapi Opus cowo.
18. Kandang Opus adalah bekas kandang anjing.
19. Opus suka memandang pemandangan luar dari balik jendela.
20. Opus suka susu danc*w.
21. Opus bisa tidur seharian.
22. Opus mukanya doang yang galak.
23. Opus kadang suka lari tiba-tiba. *Cepet banget, padahal ngga ada apa apa :3.

Labels:


3 comment(s) on current post.