PLUVIOPHILE
Welcome to Selma's blog.

Indonesian.

100% hooman.


- Selma Garuda.


# Pengalaman adalah;
December 26, 2016 / permalink


Aku mungkin memiliki banyak kenangan yang pahit.
Namun, karena merekalah, aku merasa, aku memiliki banyak pengalaman dan bisa belajar dari pengalaman pahit tersebut.
Dan akupun merasa, merekalah yang membuatku menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya.

Kau tahu?
Aku sempat down karena terus meratapi kenangan kenangan pahit tersebut.
Contohnya saja,
Aku mempunyai salah satu kenangan yang termasuk dalam kategori paling pahit yang pernah kudapati semasa hidupku.
Kakakku dipanggil Tuhan duluan.
And it's hit me so hard like a hurricane.
Orang orang terdekatnya menangis seperti orang gila.
Percayalah, saat itu aku masih kelas 3 sd. Dan, i don't know exactly what really happened.
Dan saat itu aku tidak menangis. Sama sekali tidak.
Dan akupun tidak tahu betul bagaimana perasaanku saat itu.
Sedih? Pasti. Apalagi ditambah dengan suasana duka yang woww, i can't explain it.
Yang aku sadari betul, saat itu wajahku benar benar merah padam.
Aku benar benar bingung. Kaget. Ini merupakan hal asing yang tiba tiba saja datang tanpa suatu aba aba apapun.
Dan, who's care with that?

Setelah meninggalnya Kakakku, nilaiku turun semua.
Aku menduduki peringkat 13. Padahal sebelumnya, aku mendapat peringkat 1 dikelas. Bahkan sampai wali kelasku meminta maaf padaku karena.. until now i don't even know why she say sorry to me.

Dan semenjak kejadian tersebut, banyak orang yang menilaiku menjadi sosok yang 'pendiam'.
Serta disamping itu, orang tuaku sering membandingkanku. Membandingkanku bukan dengan orang lain. Tapi mereka, atau mungkin saja bukan hanya mereka, membandingkanku dengan aku yang dulu. Katanya sih, dulu aku adalah anak yang ceria. And it's explain, that now, I'm not as cheerful as before.
Dan aku sadar akannya. Aku tidak masalah sih dengan perbandingan perbandingan tersebut. Itu semua kujadikan sebagai tempat mengevaluasi diri.

Namun mungkin karena itulah, setelahnya aku mempunyai banyak kendala dalam pertemanan, confidence, dan banyak hal lainnha yang masih ada sangkut pautnya dengan yang tadi.

Itu semua membuatku menjadi lebih sibuk dalam mengamati.
Aku mengamati, tentang perilaku orang lain dalam kondisi pelik, terdesak, dan mengamati bagaimana mereka survive dalam hal sulit tersebut. Walaupun kebanyakan dari hal hal tersebut adalah hal hal yang kecil. Yang bahkan, orang orang extrovert mungkin tidak pernah terbesit dalam fikirannya untuk melakukannya.

Dan aku, bahkan sampai sekarangpun, berusaha untuk tidak menjadikan introvert atau extrovert tersebut sebagai alasan untuk tidak melawan kelemahanku. Semoga saja tidak.

Namun kembali lagi, karena hal hal mengamati tersebut, aku merasa, aku lebih faham dengan do and don't. Melakukan apa yang seharusnya dilakukakan, dan tidak melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Dengan mengamati keberhasilan orang lain, akupun bisa meniru kiat kiat suksesnya. Begitu juga dengan mengamati kesalahan orang lain, aku bisa menjadi lebih hati hati agar tidak mengulangi kesalahan orang tersebut.

Dan kembali lagi,
Sampai sekarangpun, aku masih sering menjalankan hal hal tersebut. Sibuk mengamati, tidak takut akan kejadian pahit yang biasanya datangnya tiba tiba, dan lain sebagainya.

Dan balik lagi dengan cerita tadi, sekarangpun aku lebih bisa respect dan benar benar tahu rasanya seperti apa ditinggalkan oleh orang penting dalam hidupnya, dengan membantunya untuk survive atau mungkin dengan mengajaknya untuk survive bareng bareng, karena sampai sekarangpun, aku masih tidak bisa saja melupakan hal hal tersebut.
Tepatnya, aku tidak mau melupakannya, dan kurasa aku tidak akan pernah mau untuk melupakannya.

Pengalaman adalah guru terbaik,
Aku sama sekali tidak ingin menghapusnya dari memoriku. Entah itu sedih, atau bahagia.

Biarkan mereka menjadi runtutan cerita yang ujungnya akan berakhir dengan,
This is who I am.

Labels: , , , ,


0 comment(s)